Sabtu, 31 Oktober 2015

Setelah 800 Tahun Hilang, Tafsir Syeikh Abdul Qodir Al-Jailani Ditemukan di Vatikan

Tafsir Syeikh Abdul Qodir Al-Jailani Ditemukan di Vatikan
Tafsir Syeikh Abdul Qodir Al-Jailani Ditemukan di Vatikan

Tafsir Syeikh Abdul Qodir Al-Jailani telah ditemukan. Penemuan karya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani oleh cucu ke-23-nya sendiri, Syekh Dr. Muhammad Fadhil, membuat dunia akademik dan pengamal tarekat/tasawuf terkagum-kagum. Bagaimana tidak? Naskah ini selama 800 tahun menghilang dan baru ditemukan secara utuh di Vatikan. Manuskrip yang berisi 30 Juz penuh ini tersimpan secara baik di perpustakaan.
Tak ada yang menyangka sebelumnya bahwa Syekh Abdul Qadir Al-Jailani menulis kitab tafsir Al-Quran 30 juz yang mengulas ayat-ayat Al-Quran. Kita seolah-olah mempelajari samudra tasawuf dari ayat ke ayat. Dan, alhamdulillah, Tafsir Al-Jailani, yang dalam bahasa Arab telah diterbitkan oleh Markaz Al-Jailani Turki (6 jilid), kini telah berhasil diterjemahkan dalam bahasa Indonesia/Melayu menjadi 12 Jilid. Hingga hari ini, Markaz Jailani Asia Tenggara baru mencetak 2 jilid pertama.
Para salik yang berada di Indonesia, Malaysia, Brunei, Thailand dan Singapura yang berbahasa Melayu bisa mempelajari makna-makna penting tasawuf yang diajarkan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dengan mudah.
Kami sangat berterima kasih dengan perjuangan penelitian dan penyelidikan yang dilakukan oleh Syekh Dr Muhammad Fadhil dalam menyelamatkan manuskrip-manuskrip langka ini. Terutama yang berkaitan dengan Tafsir Al-Jailani. Kami terharu ketika mendengarkan langsung kisah pengkajian dan penelitiannya selama puluhan tahun.
Berikut adalah penuturan Syekh Fadhil dalam pembukaan kitab Tafsir Al-Jailani yang ditelitinya:
“Saya tumbuh besar di bawah pendidikan kakek saya Sayyid Syarif al-Alim al-Muqtada bih wa al-Quthb al-Kamil asy-Syaikh Muhammad Shiddiq Jalilaniy al-Hasaniy. Ayah saya bernama Sayyid Syarif al-Alim al-Allamah wa al-Bahr al-Fahhamah Syaikh Muhammad Faiq Jailaniy al-Hasaniy.
Setelah saya mendatangi Madinah Munawwarah dan tinggal di kota ini, saya pun mulai mencari kitab-kitab Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy Radhiyallahu ‘Anhu pada tahun 1977 M di Madinah al-Munawwarah dan kota-kota lainnya sampai tahun 2002 M.
Setelah tahun itu, saya menghabiskan seluruh waktu saya untuk mencari kitab-kitab sang Syaikh Radhiyallahu ‘Anhu, dan sampai hari ini saya masih terus melanjutkan pencarian itu.
Saya telah mendatangi sekitar lima puluh perpustakaan negara dan puluhan perpustakaan swasta yang terdapat di lebih dari 20 negara. Bahkan ada beberapa negara yang saya datangi sampai lebih dari dua puluh kali.
Dari proses panjang itu saya berhasil mengumpulkan tujuh belas kitab dan enam risalah yang salah satunya adalah kitab tafsir ini yang menurut saya, tidak ada bandingannya di seluruh dunia.
Dari perjalanan saya mendatangi beberapa pusat-pusat ilmu pengetahuan, saya pun mengetahui bahwa ada empat belas kitab karya Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy yang dianggap punah. Oleh sebab itu, saya terus melakukan pencarian kitab-kitab tersebut di pelbagai perpustakaan internasional setelah kitab tafsir ini selesai dicetak dan diterbitkan, insya Allah.
Sungguh saya sangat bergembira dan bersyukur kepada Allah SWT ketika saya mengetahui bahwa jumlah lembaran tulisan karya kakek saya Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy radhiyallâhu ‘anhu yang berhasil saya kumpulkan mencapai 9.752 lembar. Jumlah itu tidak termasuk tulisan-tulisan yang akan kami terbitkan saat ini dan beberapa judul yang hilang. Tentu saja, semua ini membuat saya sangat gembira dan bangga tak terkira kepada kakek saya Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy r.a..
Tafsir Syeikh Abdul Qodir Al-Jailani Ditemukan di Vatikan - Image 1Ada sebuah pengalaman menakjubkan yang saya alami ketika saya mendatangi negeri Vatikan untuk mencari karya-karya sang Syaikh di perpustakaan Vatikan yang termasyhur. Ketika saya memasuki negara Vatikan, petugas imigrasi bertanya kepada saya tentang alasan saya mengunjungi Perpustakaan Vatikan.
Pertanyaan itu dijawab oleh seorang kawan asal Italia yang mendampingi saya dengan mengatakan bahwa saya sedang mencari buku-buku karya kakek saya Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy. Saya kaget ketika tiba-tiba saja, petugas itu langsung berdiri dan berhormat seraya berkata: “Ya, ya, Sang Filsof Islam, Abdul Qadir al-Jailaniy.”
Setelah saya memasuki Perpustakaan Vatikan, saya menemukan pada katalog perpustakaan dan beberapa buku yang ada di situ sebuah tulisan dalam Bahasa Italia yang berbunyi: “Filsuf Islam”, dan dalam Bahasa Arab: “Syaikh al-Islâm wa al-Muslimîn”.
Dua gelar ini tidak pernah saya temukan di semua perpustakaan yang ada di tiga benua kecuali hanya di sini. Di Perpustakaan Vatikan saya juga menemukan sebuah tulisan tentang Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy yang berbunyi: “Sang Syaikh Radhiyallahu ‘Anhu membahas tiga belas macam ilmu.”
Kisah ini bisa menjadi inspirasi bagi kita semua. Bagaimana mungkin, karya-karya monumental Syekh Abdul Qadir Al-Jailani justru tersimpan rapi di perpustakaan di Vatikan? Kemana saja ahli-ahli sejarah kita? Mengapa karya sehebat itu “hilang” selama berabad-abad? Jangan-jangan masih banyak karya-karya besar ulama Islam yang justru diabaikan oleh kaum muslimin.

Sumber : http://www.arrahmah.co.id/



Selasa, 04 Agustus 2015

Kaum Muda NU Diskusi Menghadapi Tantangan Global


ASMARADANA - Hasil dari Musyawarah Kaum Muda NU yang berlangsung di Universitas Wahab Chasbullah Jombang, 2-3 Agustus 2015 kemarin telah diserahkan kepada PBNU untuk bisa diakomodir dalam Muktamar ke-33 di Jombang.

Musyawarah kaum muda yang diadalan di sela pelaksanaan muktamar ini mengambil tema "Kaum Muda NU dan Tantangan di Masa Depan". Sekitar 2.000 kaum muda datang karena mengetahui acara tersebut melalui 'broadcast message' atau informasi dari media sosial (medsos).

"Kegiatan tersebut adalah kebaikan bagi NU. Mereka (anak-anak muda yang datang-red) bukan dari pesantren atau dari lembaga berafiliasi ke NU. Latar belakang NU-nya bisa dikatakan tidak jelas, tapi semangat ke-NU-annya luar biasa," ujar Irham Ali Syaifudin yang menjadi salah satu penggerak dalam kegiatan tersebut, di Jombang, Rabu (5/8).

Irham yang dikenal aktif dalam sejumlah kegiatan-kegiatan NU melanjutkan, banyak peserta berpartisipasi memberikan 'iuran, mandiri'. Hal itu dikarenakan tidak semua konsumsi di-back up penuh oleh panitia.

"Saya dipercaya memfasilitasi satu sesi. Kami berkenalan dengan satu persatu peserta. Sebagian besar mengaku datang karena mendapat info dari medsos, dan ini mengejutkan. Bahkan mereka tidak kenal fasilitatornya, mereka cair, ada yang tidak bergabung dengan badan otonom NU, tapi pertemuan kemarin menghasilkan diskusi luar biasa," kata Irham lagi.

Dalam Musyawarah Kaum Muda NU ada banyak tema-tema didiskusikan. "Saya bilang itu produktif, diskusi berjalan cerdas dan panjang, dan bisa dipetakan masalahnya secara rinci, terukur," paparnya.

Agenda pendampingan masyarakat seperti konflik sumberdaya alam dan lingkungan, rekonsiliasi dan resolusi konflik sosial adalah salah satu yang dibahas dalam musyawarah itu.

Aktivis Front  Nahdliyin Untuk Keadilan Sumber Daya Alam Roy Murtadho menegaskan, agenda NU ke depan adalah jihad melawan fundamentalisme agama dan pasar.

"NU ke depan harus turun dari langit dan kembali sebagai pelayan umat, tanpa pelayanan basis maka NU akan ditinggalkan umatnya," kata Gus Roy. (Gatot Arifianto/Anam)


Sumber : NU Online

Foto Profile Muktamar NU Menjadi Trend di Sosial Media

ASMARADANA -  Ingin punya foto profil Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama seperti pada gambar? Caranya mudah banget. Kunjungi halaman situs aplikasi fotonya dihttp://nerashuke.blogspot.com/2015/07/aplikasi-foto-profil-muktamar-nu-ke-33.html, dan jangan lupa siapkan foto terbaikmu yang akan diupload di halaman tersebut. Kemudian ikuti saja langkah-langkahnya sesuai yang tertera di halaman website tersebut lalu simpan dan sebarkan foto kamu.

Yuk pasang foto profil Muktamar NU yang sudah kamu buat itu di Facebook, Twitter, BBM, Whatsapp, dan lain-lain sebagai bentuk dukungan atas suksesnya Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama di Jombang, Jawa Timur, yang diadakan pada 16-20 Syawal 1436 H/ 1-5 Agustus 2015.

Aplikasi foto profil Muktamar NU ini didukung penuh oleh Kang Hamim Musthofa, dari Persaudaraan Profesional Muslim Aswaja (PPM Aswaja), http://www.ngaji.web.id.

Untuk aplikasi lainnya sebagai bentuk dukungan suksesnya Muktamar ke-33 NU juga bisa menggunakan Twibbon yang telah dibuat oleh Kang Mukhlisin Akhlis (PPM Aswaja) di sini:http://twibbon.com/Support/sukseskan-muktamar-nu.


Sumber: Ngaji Yuk! 

Muktamar NU Molor, Masyarakat Mendapat Rejeki Lebih Melimpah


ASMARADANA - Molornya penutupan Muktamar Ke-33 NU membawa berkah bagi masyarakat Jombang dan sekitarnya. Selain muktamirin punya waktu lebih lama bersilaturahim, pedagang punya waktu lebih lama berjualan sehingga bisa untung lebih banyak.

Hal itu diungkapkan Ketua Panitia Daerah (Panda) Muktamar Nahdlatul Ulama ke-33 Syaifullah Yusuf (Gus Ipul), Senin (3/8/2015) malam di media center Muktamar ke-33 NU yang berada di komplek SMA 1 Jombang. Dalam konferensi pers yang dihadiri belasan wartawan dari lokal, nasional dan asing, Gus Ipul tampak ceria dan melemparkan guyonannya.

Menurutnya, jumlah peserta dan panitia Muktamar saja  5.000 orang. Sedangkan pengunjung muktamar selain peserta dan panitia, setiap hari rata-rata berjumlah 10.000 orang. Mereka ini datang bukan karena diundang oleh panitia, melainkan “diundang” oleh NU. Mereka merasa memiliki NU, sehingga tanpa diundang oleh panitia pun mereka pasti datang. Yang penting semuanya bisa menikmati suasana kemeriahan muktamar ini.

"Jika rata-rata setiap orang berbelanja Rp 100.000 dari 15.000 orang tersebut, maka setiap harinya terjadi perputaran uang rata-rata Rp 15 miliar. Jika dipatok Muktamar berlangsung lima hari saja, ya bisa kalikan sendiri berapa jumlahnya. Ini berkah bagi pedagang dan masyarakat Jombang. Kalaupun sempat molor penutupan Muktamar dari jadwal yang sudah ditetapkan, sebenarnya ada juga untung bagi masyarakat," tutur Syaifullah.

"Panitia selain menyelenggarakan rapat-rapat, sidang-sidang agenda muktamar, juga menyediakan arena berbagai kegiatan. Seperti di GOR ada pameran, bazar, pertunjukan musik yang menampilkan Ahmad Dhani, Rhoma Irama, shalawatan dan sebagainya. Sedangkan di sejumlah pondok pesantren juga berlangsung, bazar,  diskusi dan bedah buku dari berbagai tokoh/intelektual NU," tambah Gus Ipul.

Dari pantauan NU Online, berbagai kelompok/organisasi di lingkungan struktural maupun kultural NU menggelar pula banyak kegiatan. Mulai dari sebelum dibukanya Muktamar Ke-33 NU oleh Presiden Joko Widodo, Sabtu (1/8) malam, hingga Senin (3/8/2015) malam. (Armaidi Tanjung/Mahbib)     

Sumber : NU Online

TNI All Out Sukseskan Muktamar NU ke-33

ASMARADANA – Jumlah peserta dan simpatisan Muktamar Nahdllatul Ulama (NU) ke-33 di Jombang mencapai lebih dari 50.000 orang. Sejalan dengan itu, ketersediaan makanan dan minuman bisa jadi masalah jika tidak dipersiapkan dengan baik.

Selain panitia yang menyediakan bekal makan, beberapa pihak juga turut membantu. Salah satunya adalah unsur TNI yang turut mengusahakan kelancaran ketersediaan makanan saat muktamar NU.
TNI membangun dapur umum di kawasan Markas Kodim 0814/Jombang. Dapur umum itu berdiri di bawah komando Detasemen Pembekalan dan Angkutan Kodam V/ Brawijaya yang dipimpin Letkol Cba Arok Jayanto dengan beranggotakan 87 personil. Detasemen ini bekerja setiap hari menyediakan makanan.

“Kami membantu menyediakan makan untuk non-peserta,” kata Letkol Cba Arok Jayanto dalam surat elektronik yang diterima halopolisi.com, Rabu (5/8/2015).
Letkol Cba Arok Jayanto membeberkan, setiap kali memasak, Detasemennya mampu menyediakan 5.000 nasi kotak yang langsung didistribusikan ke beberapa lokasi yang menjadi konsentrasi simpatisan muktamar yang sebelumnya telah dikoordinasikan dengan panitia terkait, khususnya tentang sasaran dropping makanan.

Variasi menu menjadi salah satu hal yang juga dipikirkan. “Ada ayam goreng, tempe goreng, menu masakan cukup variatif,” kata Letkol Cba Arok Jayanto.

Sementara Letnan Satu Cba Mulyanto selaku komandan dapur umum mengatakan, ia bersama segenap anggotanya merasa cukup bangga karena dapat memiliki kontribusi langsung terhadap kelancaran pelaksanaan Muktamar NU ke-33, meski hanya sebatas memasak sesuai dengan keahlian yang dimiliki pada kecabangannya.

Lokasi muktamar di Jombang ini berlangsung di lima tempat berbeda, mulai dari Alun-alun Jombang sebagai venue utama hingga beberapa pesantren yang menjadi tempat rapat pleno komisi yakni Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Pesantren Manbaul Maarif Denanyar, Pesantren Darul Ulum Rejoso, serta Pesantren Tebuireng.(penrem 082/ziz)

FOTO: Prajurit Kodam V/Brawijaya saat menyiapkan makanan di dapur umum bagi simpatisan Muktamar NU ke-33 di Jombang.(penrem 082/ziz)


Sumber : HaloPolisi

Muktamar NU, Masyarakat Mendapat Berkah Limpahan Rejeki

ASMARADANA - Muktamar Ke-33 NU, Perhelatan akbar 5 tahunan yang berlangsung di Jombang, Jawa Timur 1-5 Agustus 2015 tidak saja memberikan manfaat kepada peserta Muktamar, namun masyarakat dan ratusan pedagang yang membanjiri arena Muktamar dengan meraup keuntungan cukup signifikan. Omset penjualan dan pendapatan mereka berlipat-lipat.

Seperti dituturkan Siska Lukitasari, yang membuka stand kuliner yang digelar Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) di halaman SMA 1 Jombang, persis di depan alun-alun Jombang. Kepada NU Online Rabu (5/8), omset penjualannya rata-rata Rp 2,5 hingga Rp 3 juta perhari.

Di luar Muktamar, omset penjualannya hanya berkisar rata-rata Rp 280.000-an per hari. Selain menjaul jamu, juga berbagai makanan ringan dan minuman lainnya. Termasuk makanan yang diproduksi oleh Komunitas Jombang Kuliner seperti es Otiek yang dikembangkan  Niken Ari Riswanti.

"Selama Muktamar NU, sejak pagi hingga pukul 22.00 WIB. Dari sisi harga, memang ada kenaikan tarif 40 persen dibanding hari biasa," kata Siska Lukitasari, yang  juga Bendahara Komunitas Jombang Kuliner di Facebook yang memiliki anggota 38.000 orang.

Menurut Siska, Mbok Jamu merupakan minuman tradisional dengan berbagai rasa seperti beras kencur, sinom, kunyit asem, jahe secang, sari rempah blambangan, temulawak, gepyok, kunci suruh. "Khusus Mbok Jamu, sehari bisa terjual 20-30 botol," kata Siska.

Ojek becak pun merasakan peningkatan pendapatan. Parlin (40) yang sudah 15 tahun berprofesi sebagai  ojek becak, mengakui jasa ojeknya laris. "Hari-hari biasa dapat Rp 50.000 saja sulit. Tapi pada muktamar ini sehari bisa mencapai Rp 200.000. Di hari pertama pembukaan Muktamar, banyak peserta yang manfaatkan becak karena tidak tahu lokasi. Dari alun-alun ke Tebuireng misalnya, tarifnya bisa mencapai Rp 70.000.

Sedangkan Wajik (30) ayah satu anak ini memanfaatkan Muktamar NU ini dengan menjual buku-buku Islam, bernuansa  ke-NU-an,  amaliah NU dan serangan terhadap amaliah NU. Diantara buku yang dipajang, buku yang bertemakan ajaran Wahabi dan serangan terhadap ibadah-ibadah yang dibid'ahkan oleh kelompok tertentu banyak diminati pengunjung. Banyak pengunjung dari Sulawesi Selatan yang membeli kedua tema buku. Alasannya, di sana sedang marak-maraknya penyebaran paham Wahabi.

"Jadi mereka ingin tahu apa sesungguhnya paham Wahabi sehingga bisa menangkal paham tersebut. Karena di sana mereka sulit mendapatkan bahan bacaan terkait paham Wahabi," kata Wajik yang sebelumnya pernah bekerja di Kalimantan di sebuah restoran. Karena dilarang ayahnya kembali ke Kalimantan dan kini tengah menemani isteri yang baru melahirkan di Jombang.

Dari pantauan NU Online sepanjang Selasa (4/8) malam, seputaran alun-alun Jombang ini dipadati pedagang kali lima yang menjual berbagai jenis dagangan. Ada pakaian, buku-buku Islam dan NU, mainan, pijit refleksi, makanan, alat-alat rumah tangga, kebutuhan ibu-ibu rumah tangga dan lain sebagainya. Barang-barang yang dijual selain bertemakan muktamar yang menjadi buruan peserta muktamar. Juga terlihat parkir kendaraan di setiap jalan di seputaran alun-alun dengan tarif Rp 5.000 per kendaraan.

"Saya pesan baju ini bergambar dan bertulisan muktamar NU ini sebagai oleh-oleh bagi sahabat yang tidak sempat hadir ke sini. Selain baju, ada juga pin dan logo NU untuk dibagi-bagikan kader NU di daerah," tutur Zoni pengurus cabang NU di Sumatera Barat. (Armaidi Tanjung/Fathoni) 
Keterangan foto: Siska Lukitasari tengah memperlihatkan Mbok Jamu, Minuman Tradisional di stand-nya yang berada di depan SMA 1 Jombang.

Sumber : NU Online

Fatwa Mufti Madinah Mengenai BPJS



Hukum BPJS ( Badan Penyelenggara Jaminan Sosial ) KESEHATAN Berdasarkan fatwa mufti Madinah Al Habib Zain bin Ibrahim bin Smith dan Rabithah Alawiyah Jawa Timur dengan koordinator Al Habib Taufiq bin Abdul Qodir Assegaf
A. HUKUM KEBERADAAN BPJS KESEHATAN
1. DIBENARKAN menurut syari'at, bila dibentuk oleh Pemerintah semata-mata untuk menghimpun dana dari masyarakat untuk memberikan bantuan biaya pengobatan kepada mereka yang membutuhkan ( Asuransi Ta'awuni / Ijtima'i )
2. TIDAK DIBENARKAN menurut syari'at, bila dibentuk oleh Pemerintah atas dasar mendapatkan keuntungan (lahan bisnis) karena termasuk Qimar ( Judi )
B. HUKUM MENJADI PESERTA BPJS KESEHATAN
1. BOLEH, sebagaimana point pertama di atas dengan ketentuan dalam pembayarannya dilandasi SUKARELA dan BERDERMA (tabarru') meskipun ia akan mendapatkan bantuan pengobatan jika sakit.
2. TIDAK SAH dan HARAM, bila pembayarannya tidak dilandasi sukarela dan berderma melainkan semata-mata untuk mendapatkan imbalan berupa biaya pengobatan pada saat membutuhkan karena termasuk Qimar ( Judi ). Sebab uang yang diserahkan tetap menjadi miliknya. Oleh karena itu wajib baginya untuk mengeluarkan zakatnya jika telah mencapai nishob dan haul serta menjadi hak ahli waris jika ia meninggal dunia.
3. TIDAK SAH sebagaimana point kedua diatas (lahan bisnis) dan HARAM hukumnya karena termasuk ikut serta dalam perjudian walaupun dengan maksud berderma ( tabarru' )
C. KESIMPULAN
Hukum BPJS KESEHATAN & Hukum menjadi peserta BPJS KESEHATAN menjadi HALAL dan SAH dengan persyaratan sebagai berikut :
"Pemerintah di dalam membentuk BPJS Kesehatan harus ATAS DASAR SOSIAL ( bukan untuk tujuan bisnis ) dan mensosialisasikan kepada masyarakat agar yang menjadi peserta BPJS Kesehatan dengan berlandaskan semata-mata untuk berderma ( tabarru' ).
Fatwa atas rekomendasi :
1. Al Habib Zein bin Ibrahim bin Smith, mufti Madinah Saudi Arabia
2. Al Habib Abubakar bin Muhammad Bilfaqih, ulama dan penagajr Rubath Tarim Hadhromaut, Yaman
3. Syaikh Dr. Ahmad bin Abdul Aziz Al Haddad, Ketua Majelis Ifta Dubai Uni Emirat Arab )
Mengetahui,
Pembina Rabithah Alawiyah Jawa Timur
Ttd
Al Habib Husin bin Abdullah Assegaf
Koordinator Wilayah Jawa Timur
Ttd
Al Habib Taufiq bin Abdul Qodir Assegaf


Muktamar NU Putuskan BPJS Kesehatan Halal



ASMARADANA — Meskipun malam ini berlangsung sidang pleno Laporan Pertanggungjawaban, tapi peserta sidang komisi bahtsul masail tetap melangsungkan sidang. Kegiatan yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas ini telah memutuskan sejumlah persoalan, termasuk hukum BPJS.

Kesimpulan dari sidang komisi Bahtsul Masail Waqi’iyah (masalah kekinian) di arena Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama dapat menerima dan memperbolehkan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan yang sebelumnya sempat diharamkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI).

“BPJS itu tergolong dalam konsep syirkah ta’awwun yang sifatnya gotong royong (sukarela), bukan seperti asuransi yang menjadi dasar dari fatwa haram oleh MUI,” kata anggota pimpinan sidang Komisi Bahtsul Masail KH Asyhar Shofwan MHI di Jombang, Senin (3/8/2015) malam.

Ketua Lembaga Bahsul Masail (LBM) PWNU Jatim itu menjelaskan bahwa asuransi memang haram.
“NU sendiri sudah berhukum bahwa asuransi itu haram, karena sifatnya profit, kecuali asuransi yang dilakukan pemerintah, seperti Jasa Raharja, karena sifatnya santunan. Kalau BPJS itu asuransi, tentu haram,” katanya.

Didampingi KH Romadlon Khotib yang juga salah seorang Ketua LBM PWNU Jatim dalam kepemimpinan sidang komisi Bahsul Masail itu, ia mengatakan NU sendiri menilai BPJS itu bukan asuransi, melainkan “syirkah ta’awwun” karena itu hukumnya boleh.

Kendati demikian ada sejumlah catatan yang harus dilakukan pemerintah terkait NPJS kesehatan tersebut. “Pemerintah harus melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang sifat gotong royong atau sukarela dari BPJS Kesehatan itu agar tidak memahami BPJS Kesehatan sebagai asuransi seperti pada umumnya,” katanya.

Menurut dia, BPJS Kesehatan sebagai “Syirkah Ta’awwun” itu hendaknya dipahami sebagai sedekah dan saling membantu, sehingga tidak sama dengan asuransi yang profit. “Sebagai sedekah, maka masyarakat harus ikhlas dalam membayar,” katanya.

Ia mengatakan masyarakat yang tidak ikhlas dalam membayar “sedekah” melalui BPJS Kesehatan itu hanya mau membayar ketika sakit dan tidak membayar ketika sehat. “Yang namanya sedekah itu harus dalam keadaan sakit atau sehat,” terangnya.
Oleh karena itu, NU dalam sidang Komisi Bahtsul Masail pada Muktamar Ke-33 NU itu merekomendasikan untuk menjadikan BPJS Kesehatan sebagai “syirkah ta’awwun” dan harus disosialisasikan kepada masyarakat secara terus menerus. (Ant/S@if)